Lalu, Kita ini apa?

Dentuman jam dinding, pelan nan lirih menyentuh hati tepat saat mata tlah trasa kantuk tapi raga tetap memaksa. Rasanya baru kemaren kita berteman, lalu memilih untuk bersama hingga akhirnya tak saling menyapa. Tak terasa sembilan tahun bergegas begitu cepat, saling berjalan menjauh dan enggan untuk memulai bersua. Kamu tlah sukses dengan rencana yang pernah kita susun bersama, dan kau tetap seperti dulu, sederhana. Namun, sepertinya rasa kita tlah berbeda tak lagi sama dan akupun siapa bagi kamu yang selalu sempurna?
Tiga tahun setelahnya, kamu yang memulai menyapa, kita saling memaafkan dan sekarang kita sama-sama dengan perasaan tak lagi berdosa. Kamu tetap dengan kesederahanaanmu, baik, namun kali ini kau berdasi yang terlihat lebih menawan nan rapi. Meski jarang berkomunikasi, tapi kita selalu saling menyempatkan tanya kabar, kesibukan atau bahkan saling mendoakan. Mendoakan bisa bersanding di pelaminan misalnya, hehehe dan berawal dari teman, kuyakin sampai kapan pun juga akan berakhir jadi teman (baik). Teman iya teman, teman yang saling mendukung, dan teman yang saling berlomba-lomba menuju hal yang baik.
Enyahlahh, setahun terakhir kita semakin dekat sedekat dulu, dulu yang saling berbagi, berbagi apapun dan hingga aku pun memulai mencintainya lagi. Namun, saat bersamamu ku selalu sama tak berani melangkah lebih jauh, hanya ingin berdiam dan selalu disini bersamamu. Aku dan kamu yang memiliki jarak nan jauh, dan kita hanya sebongkah ilusi, jika kita bisa bersama maka semua akan sia-sia. Lalu, kita ini apa? Tetap menjaga hingga puluhan juta hari dilewati bersama. Lalu, kita ini apa? Atau tak pernah ada rasa selama kita berjumpa? Lalu, kita ini apa? Saling tak bisa berjauhan, saling tak bisa menahan doa, dan saling merindu dari kejauhan. Lalu, kita ini apa?

Komentar

Mine

PRAMUKA Itu Bisa Apa Saja :)

Bonjour, Imamku :)