Mengapa harus Iya?

Jam berdering dengan nyaring pertanda Panggilan untuk segera Presensi Ibadah kepada Sang Maha Kuasa. Hari ini tak seperti biasanya, dingin tapi udaranya sangat sejuk sekali jika ditemani dengan teh panas. Satu per satu ayam jantan berkokok dan saling bersautan kesana kemari memenuhi pertiga malam kali ini. Yeah, Hari ini waktu dimana semua Barokah dispesialkan kepada Hamba-hambaNya yang mau beribadah dengan khusyuk. Sujud demi sujud kulalui bersamaan dengan rindu yang tiap hari semakin menggebu-gebu ingin bertemu.
Dia, dia memang tak tampan tapi selalu saja mengetuk jiwa dan ruang kerinduan untuk setiap harinya. Tak terasa sudah seminggu tak melihat alis tebalnya yang selalu menghiasi paras manisnya, Iya Namanya Ansori. Pemuda sok yang selalu menjadi perusak mimpiku karna ocehannya yang khas sekali serak-serak basah. Tak terasa tepat hari ini kita sudah bersama-sama selama 2 bulan meskipun hanya sebatas komitmen. Lantas hal itu pula yang membuatku semakin ingin tertantang dengan hubungan ini, hubungan yang hanya dipenuhi dengan segudang kepercayaan.
Seminggu serasa sebulan, sosoknya yang selalu mengingatkan dengan Pria setengah baya yang selalu memanggilku dengan sebutan 'Mbak'. Ya, Seorang Ayah yang selalu kurindukan kehadirannya tiap detik tiap menit dan tiap jam. Beliau orang yang tak pernah terganti meskipun ada banyak Ansori Ansori yang seperti Ayah, wkwk. Ansori ini hampir sangat mirip sekali seperti Ayah, sama-sama keras kepalanya tapi keduanya sangat Ku cinta. Tanpa mereka mungkin setiap hariku dicucuri dengan air mata yang diakibatkan kerasnya kehidupan.
Masih ada 2 lagi sosok Adam yang menjadi motivasiku untuk selalu belajar dan belajar mereka ialah adik-adikku. Achmad Ahsanul Adzkiyak dan Achmad Amirul Amin, mereka pemilik nama-nama yang luarbiasa. Mengapa harus Iya? Iya, karena mereka semua aku harus tetap bertahan dengan semua pilihan. Pilihan yang kali ini penentu masa depanku ke depan, pilihan yang sulit untuk dilakukan dan pilihan yang tak mampu kuucapakan. Perlahan ku sempat berfikir untuk berhenti dan melanjutkan pada suatu saat nanti tapi Hati ini masih saja berucap IYA.

Komentar

Mine

PRAMUKA Itu Bisa Apa Saja :)

Lalu, Kita ini apa?

Bonjour, Imamku :)