Pemilik Hati
Angin semilir ditemani dengan segelas air mineral pada siang kali ini, terik matahari sangat terasa sekali. Rindu kali terlemas rapi di relung hati dan rupanya ia juga berpura pura akan rasa yang dimiliki. Ah, rasa itu kadang datang kadang juga pulang entah tak tau arahnya enyahlah. Satu persatu daun mulai menguning dan mereka enggan untuk tetap bersemayam di pucuk ranting. Mendung mulai menyelimuti matahari, tapi hati pun tetap sendiri untuk menatap rindu ini.
Topi hitam, kemeja putih bernuansa hitam dibalut dengan senyum manis ditambah celana jins hitam yang kebesaran ketika ia pakai. Yey, dia pemilik hati ini, hanya bisa mengangan-angan sembari berharap dia kan datang membalas rindu ini. Hujan deras mengguyur kota saat ini, ju bergegas berlari keluar untuk mengangkat pakaianku yang sedari kemarin tak kunjung kering. Waw, rindu ini semakin bertumbuh dan berkembang, hujan engkau banyak kenangan. Lana, andai saja rindu ini ringan pasti aku ga bakal ngasih ini ke hujan, sayangnya rindu ini terlalu berat jika kau tak kunjung membalasnya.
Bulan berganti, tapi hati ini tetap sakaw terpatri rapi hingga tak tau kapan ia akan terbuka kembali. Pohon mangga telah berbuah, cat tembok sudah memudar dan besi jendela ruang tamu tlah kiam menguning. Rindu, lagi-lagi kau mengusik kesendirianku yang tak mampu bertahan lagi. Salamkan rindu ini kepada perobek hati yang tlah lama tak kunjung kembali lagi, lagi dan lagi~
Topi hitam, kemeja putih bernuansa hitam dibalut dengan senyum manis ditambah celana jins hitam yang kebesaran ketika ia pakai. Yey, dia pemilik hati ini, hanya bisa mengangan-angan sembari berharap dia kan datang membalas rindu ini. Hujan deras mengguyur kota saat ini, ju bergegas berlari keluar untuk mengangkat pakaianku yang sedari kemarin tak kunjung kering. Waw, rindu ini semakin bertumbuh dan berkembang, hujan engkau banyak kenangan. Lana, andai saja rindu ini ringan pasti aku ga bakal ngasih ini ke hujan, sayangnya rindu ini terlalu berat jika kau tak kunjung membalasnya.
Bulan berganti, tapi hati ini tetap sakaw terpatri rapi hingga tak tau kapan ia akan terbuka kembali. Pohon mangga telah berbuah, cat tembok sudah memudar dan besi jendela ruang tamu tlah kiam menguning. Rindu, lagi-lagi kau mengusik kesendirianku yang tak mampu bertahan lagi. Salamkan rindu ini kepada perobek hati yang tlah lama tak kunjung kembali lagi, lagi dan lagi~
Komentar
Posting Komentar