AZAmku
Namanya Ahmad Zimamuzzaman kerap dipanggil Ahmad dengan teman-temannya, namun kubiasa memanggilnya dengan sebutan Azam. Dia lahir di Surabaya 13 tahun silam. Dia manusia setengah dewa saat itu. Tau kenapa kusebut dewa? Ya gegara dia sering menghantui pikiran ini dengan rindu. Kita tidak pernah dipersatukan dalam 1 atap Sekolah namun kita sering bertemu jika berangkat atau pulang sekolah.
Saat itu langit Jogjakarta lagi bersahabat. Tidak ada hujan ataupun mendung. Tepatnya saat itu aku berada di belakangnya saat jam pulang sekolah. Bertepatan saat itu pula aku tidak membawa sepeda saat ke sekolah alhasil melihat Azam ada di ujung mata. Aku tersenyum, aku diam walupun sebenarnya kuingin menyapanya tapi rasa malu lebih memuncak saat itu. Zam, Rindu tau.
Keesokan harinya dia berangkat lebih awal tak seperti biasanya. Oh ya Azam ini kakak kelasku saat di SMP. Dia sekarang duduk di bangku kelas akhir di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Padahal umurnya denganku hanya selisih 5 bulan 17 hari. Dikarenakan aku masih imut saat umur 4 tahun jadinya sama Ibu tidak dimasukkan TK terlebih dahulu. Kembali lagi dengan Azam. Azam saat itu benar-benar kakak kelas yang menggemaskan dan teman curhat yang paling enak dah.
Seminggu kemudian hujan turun begitu deras, entah kenapa hari itu sangat dingin sekali. Padahal Jogjakarta dikenal dengan kota bersuhu panas. Zam, Rindu tau. Lagi-lagi rindu sama si abang menggemaskan itu. Meskipun kita dekat seperti abang dan adek tapi rasanya melebihi hal itu. Kita sering sharing satu sama lain, bahkan dia sering cerita orang yang dia suka. Wkwkw Azam lucu dah, meskipun semua ceritanya membuatku bad mood~
Tiga tahun kemudian kita sudah jarang sekali berhubungan karena aku pindah sekolah otomatis domisiliku juga pindah. Sudah ga pernah denger kabarnya, rasanya ada yang hilang. Tapi harus bagaimana lagi aku tak bisa berbuat apapun. Hmm, iseng-iseng kubuka facebook. Yey, ternyata 5 hari yang lalu Azam mengirim pesan. Entah kenapa begitu senangnya saat itu. Pembahasan kita sudah tak sama dengan 3 tahun yang lalu. Dia sering bilang rindu :)
Setiap hari berkirim pesan lewat fb dan dia memberi tau kalau no hpnya ganti. Tak jarang kita berlarut-larut akan kesenangan bersama walaupun hanya sebatas mendengar suara 1 sama lain. Azam cowok yang baik. Azam cowok yang hidup dengan kesederhanaan meskipun kutau dia berasal dari orang yang berada di daerahnya. Azam itu miliku :*
Kenapa rasa ini tidak mulai tumbuh ketika dulu kita masih berdekatan? Sudah saling sayang, saling cinta dan saling rindu tapi tak bisa bertemu. Hubungan kita berjalan begitu saja, memang tidak ada perkataan langsung dari Azam untuk memintaku jadi ceweknya, tapi di sisi lain dia sudah mengakuiku sebagai ceweknya. Terimakasih Azam, kamu sangat baik dan mengagumkan.
Suara burung bersiul kesana kemari. Azam bilang kalau dia rindu dan ingin bertemu. Tapi dia bilang juga tidak bisa menemui ke tempatku. Aku bingung lalu kuhubungi sahabatku Putri masalah ini. "Yaudah besok Jumat kita ke tempat Azam, kuantar", kata Putri dalan telepon. Putri baik dan sangat peduli denganku. Dia sudah kuanggap seperti suadaraku sendiri. Terimakasih, Put~
Hari yang kutunggu pun datang. Hari Jumat sekolahku libur, sedangkan sekolah Putri dan Azam. Akhirnya ku menunggu Putri untuk menjemputku. Tak lama kemudian setelah kukirim sms ke Putri akhirnya dia datang. Kita bergegas menghampiri Azam, karena kutau Hari Jumat waktunya sangat sedikit. Nanti pasti kepotong dengan sholat Jumat. Azam ada di atas, dia tersenyum. Untuk pertama kalinya ku bertemu Azam kembali. Setelah sekian lama kutak pernah melihat senyum manisnya. Dia bilang tunggu aku akan turun. Tapi ku menolaknya untuk menghampiriku. Aku malu, Zam. Dia memohon agar aku tidak boleh kembali terlebih dahulu sebelum kita bertemu. Akhirnya ku memutuskan menunggu Azam di warnet terdekat, karena sebentar lagi kumandang Sholat Jumat akan terdengar dimana-mana. Azam, kamu kok terlihat sangat cakep ya~
Keheningan warnet saat itu sangat terasakan. Mungkin disana hanya ada 5 orang sudah termasuk aku dan Putri. Beberapa menit kemudian Azam datang menghampiriku. Putri pun memutuskan untuk menunggu kita di luar warnet sepertinya dia ingin jalan-jalan terlebih dahulu. Sungguh rasa rindu yang tersimpan selama ini terobati setelah berhadapan langsung dengan Dewa Kerinduan. Zam, rindu tau. Lagi-lagi hal itu yang ku ucapkan. Azam berucap "Ayo kita foto berdua!". Aku hanya diam mengisyaratkan kalau iya. Heheheh. Tau kenapa aku tertawa? Semua fotoku jelek. Alhasil semua fotonya kuhapus. Mungkin gatau kalau itu tak hapus. Putri sudah kembali dan akhirnya ku memutuskan untuk kembali. Terimakasih untuk hari ini, Zam~
Hari demi hari berganti dengan indah. Azam disibukan dengan banyaknya jadwal les tambahan menjelang UAN. Sedangkan aku disibukan dengan seleksi peserta Perkemahan tingkat Nasional saat itu. Waktu untuk berkomunikasi pun semakin berkurang. Mendengar suaranya pun tak selama dulu. Sehari bisa dengar suaranya itu sudah sangat bersyukur sekali.
Tak kurasa sudah 5 minggu terlewati begitu saja. Hubungan kita masih dibilang baik-baik saja. Mungkin malah saat itu rindunya sudah memuncak. Nahan rindu itu sakit tau, Zam. Tapi dengan kita disibukan seperti ini setidaknya manejemen bertengkar kita semakin berkurang. Kita saling support demi kebaikan masing-masing. Alhamdulillah aku dan 1 temanku lolos seleksi dan akhirnya mewakili Madrasahku ke ajang yang bergengsi itu.
Berhari-hari ku masih disibukan dengan latihan untuk persiapan Perkemahan sedangkan Azam sudah selesai UAN. Azam yang sekarang lebih sering ngrengek kalau aku sulit dihubungi. Hingga saatnya tiba pada hari H acara Perkemahan. Ku akui aku sangat sulit untuk dihubungi, disana sinyal pun terbatas. Azam mungkin saat itu mulai kesal untuk menunggu.
Beberapa hari kemudian ku melihat postingan teman Azam di fb. Disana Azam foto berdua dengan cewek. Aku tidak habis fikir bisa-bisanya Azam melakukan hal itu. Tanpa fikir panjang lebar ku langsung marah. Bodohnya aku mau termakan atas hasutan setan. Tapi sisi lain Azam tak pernah cerita apapun dengan cewek itu. Wajar kalau ku berfikiran negatif, wajar kalau ku cemburu, wajar kalau semarah itu. Zam, Please apa salahku hingga kamu seperti itu!??
Setelah kejadian tersebut kita tidak ada koneksi apapun. Hingga saatnya liburan tiba. Ku memutuskan untuk pergi ke rumah nenek untuk sedikit menghilangkan rasa pilu itu. Pada malam harinya ku keluar dengan Adikku yang masih kelas 7 SMP. Hp berdering tak biasanya ada yang mengirim sms. SMS dari Azam. Ada rasa senang yang terbesit dalam hati saat itu. Tapi ternyata Azam jahat. Dia meminta untuk mengakhiri hubungan kita. Di saat ku benar-benar menyayanginya. Di saatku mencaintainya dan selalu merindukannyamerindukan jikalau jauh.
Pertemuan beberapa minggu yang lalu jadi yang pertama dan terakhir untuk kita. Terimakasih Azam untuk selama ini dan mohon maaf untuk semuanya. Keputusan dia seperti itu ya sudah aku g akan memintanya untuk memikirkan kembali. Dia pasti tau yang lebih baik untuk dirinya. Aku juga sadar diri kalau tidak pantas dengan dia. Aku hanya cewek dari keluarga yang sederhana.
Dua minggu kemudian Azam menghubungiku untuk meminta maaf dan sedikit menjelaskan hal yang sebenarnya. Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku masih menaruh hati kepadanya. Tapi rasa kesal dan kecewa melebihi rasa sayangku padanya. Aku pun memutuskan tidak akan kembali kepadanya, jika untuk berteman atau bersahabat tak apa. Tapi untuk masalah hati belum bisa kitemui obatnya.
Tahun demi tahun terlewati, ternyata ku bodoh sebodoh-bodohnya. Hingga detik ini ku belum bisa melupakan Azam. Hidupku semakin hancur. Sudah tak terarah. Sudah bukan sewajarnya. Aku berubah dan tak tau arah. Bayang-bayang Azam selalu terbayang. Akhirnya kumemutuskan untuk tidak mencoba mencari lagi informasi tentangnya. Semua akun sosial media ku coba untuk unfollow. Maksud hati bukan mencari musuh. Tapi hanya untuk mencoba untuk tidak mencintainya lagi.
Selamat jalan, Zam. Semangat menggapai cita-cita. Semoga kamu dapat yang jauh lebih baik dariku. Makasih untuk segalanya dan mohon maaf untuk selama ini~
Komentar
Posting Komentar