Terbungkus Tawa (: :)
Hari demi hari minggu demi minggu tahun demi tahun kulalui bersamu dalam suka maupun duka. Kamu yang selalu mengentaskan luka dari dalam dada hingga menjadi tawa yang indah bak rembulan purnama. Kamu itu pria hebat, pekerja keras dan tak pernah putus asa yang bercelah dibalik nama Mochammad Maulana Malik. Hari ini hubungan kita genap 14 tahun, hubungan ini telah merajutku ke dalam dunia Istri sekaligus Ibu. Ibu dari Putra Pertama yaitu Achmad Akmalul Ali dan Sayyidati Stani Sholehah, mereka terpaut 7 tahun dalam kelahirannya.
Kicaun burung pagi ini diiringi lagu lembut oleh Syaraswati yang elok rupanya dan sesekali dingin berlalu lalang pada poros kaki. Ku duduk di dekat taman sambil menemani Sang Suami yang tiba-tiba mencletuk membahas pertama kali kita kenal. Dia dulu pria manis yang tak banyak bicara, lebih condong laki-laki pemalu yang kadang kala sok cool jika memakai hem kotak-kotak merah maroon. Hmmm jika mengingat-mengingat itu rasanya selalu jatuh cinta lagi, lagi dan lagi pada suami tercintaku. Bagiku dia sosok idaman wanita maupun mertua, parasnya yang bisa membuat terkesima semua kalangan usia. Hahahah, ku terlapau menyanginya hingga tak terasa dari tadi hanya kelabihannya yang ku lontarkan.
Hari-hariku seperti biasanya berangkat mengajar bersama Si Sulung yang juga sekolah pada SD yang kutempati berbagi ilmu. Sedangkan Si Bungsu berangkat bersama Abinya sekalian suami berangkat kerja yang tempat kerjanya tak jauh dari TK Stani, itu panggilannya Si Bungsu. Dedaunan SD kali ini berguguran bak diterjang kemarau panjang tak kunjung hujan, padahal baru kemarin hujan mengguyur kota ini. Tak terasa senja sudah terlihat dari kelopak mata, aku pun bergegas membereskan barang-barangku untuk segera pulang berjumpa malaikat-malaikatku.
Mendung beriringan dengan laju roda mobil yang kukendarai, Si Sulung duduk di jok bagasi depan yang tak sengaja kulihat dia tertidur pulas. Wahhh, hujan lagi-lagi membasahi kaca mobil saat ku bergegas pulang, kepadatan kota pun meluap pada jam-jam segini, ku coba buka kaca spion dan taraa di samping kanan mobilku ada Si Bungsu yang juga tertidur di jok depan mobil Mas Lana. "Abi . . . Abi . . . Abi . . . .", teriakku seakan-akan dapat menembus derasnya hujan kali ini. Mas Lana pun menoleh dan melambaikan tangannya ke arahku, ku tersipu malu dan lagi-lagi ku selalu jatuh cinta dengan senyum manisnya yang dibaluti dengan kumis tipisnya yang indah itu.
Lampu merah tlah terlewat dari tadi, kita pun jadi berasa bersalah karena membuat jalanan jadi macet kembali. Husss, kita melancong beriringan, jalanan di perumahan jam segini sudah mulai sepi kadang kala ku mengajaknya balapan mobil tapi dia tak pernah mengirauknnya. Cintaku kepadanya sesimpel ini, kita berawal dari nol dan merangkak bersama-sama demi saling membahagiakan satu sama lain.
Sesampainya di rumah ku langsung bergegas menyiapkan air panas dan pakaian untuk Si Bungsu. Lalu ku juga ikut mandi dan setelah itu menyiapkan makan malam dengan menu favorit keluarga kami sayur sop masakanku. Ku bahagia memiliki mereka yang berada di sampingku dan Insyaallah bisa menerimaku apa adanya. Tawaku pun sederhana, sederhana kesukaan kami saat santap makan malam bersama sambil berbincang pengalaman masing-masing yang dilakukan di tempat sekolah maupun tempat kerja. Rinduku slalu terbual manis oleh bungkusan tawa :)
Komentar
Posting Komentar